Mengenal Emotional Eating
Pernah kah kamu?, lagi kerja, tiba-tiba pengen ngemil sesuatu?
Padahal baru aja makan siang. Atau setelah hari yang panjang dan melelahkan, rasanya pengen “hadiahin diri sendiri” dengan makanan manis?
Kalau iya, kamu nggak sendirian.
Banyak pekerja kantoran mengalami hal yang sama dan ini disebut emotional eating.
Emotional eating adalah kebiasaan makan yang bukan karena lapar, tapi karena emosi.
Bisa karena stres, capek, bosan, atau bahkan sekadar butuh jeda dari rutinitas kerja yang padat.
Di dunia kerja, hal ini sering terjadi tanpa disadari.
Deadline, meeting bertubi-tubi, dan tekanan target bikin tubuh kita memproduksi hormon stres.
Dan menariknya, kondisi ini bisa bikin kita lebih “ngidam” makanan tinggi gula atau lemak, karena dianggap bisa bikin mood lebih baik, walau hanya sementara.
Masalahnya, rasa “lega” itu biasanya nggak bertahan lama.
Yang ada, sering muncul rasa bersalah setelahnya.
Padahal sebenarnya, yang tubuh kita butuhkan mungkin bukan makanan.. tapi istirahat, napas sebentar, atau sekadar pause dari semua tekanan.
Jadi bagaimana sih cara membedakannya?
Biasanya lapar fisik datang perlahan, dan semua makanan terasa oke.
Sedangkan lapar emosional datang tiba-tiba, dan lebih spesifik (biasanya manis/comfort food).
Mengenali ini adalah langkah awal untuk lebih memahami tubuh sendiri. Karena nggak semua rasa “lapar” harus langsung diisi dengan makanan. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah waktu untuk diri sendiri.
Hari ini, coba tanya ke dirimu:
“Aku lagi lapar... atau lagi butuh istirahat ya?”
